Hari Bumi, bermakna apa bagi seorang pencerita? (the Earth Day, what does it mean for a storyteller)

Bersama peserta dongeng berdialog tentang makna Hari Bumi 2017
Bersama peserta dongeng berdialog tentang makna Hari Bumi 2017 – Lokasi: Rumah Hijau Denassa

Dalam serangkaian kegiatan memperingati hari Bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April ini (untuk tahun 2017, hari Bumi jatuh di hari Sabtu), saya (dan si Otan tentunya) mendapat undangan atau permintaan bercerita dalam dua hari berturut-turut. Yaitu pada hari Jumat (21/4) dan Sabtu (22/4).

In the following the Earth Day celebration that is celebrated every 22nd April yearly – in 2017 the celebration fall on Saturday, I and si Otan – of course received the invitation to telling stories in two Earth Day celebration, i.e. Friday (21/4) and Saturday (22/4).

Undangan pertama datang dari Lazuardi Athaillah Global Islamic School Makassar, yang terletak di kawasan Pettarani dan yang kedua dari Komunitas Kompasianer Makassar – yang peringatan hari Bumi-nya dilaksanakan di Rumah Hijau Denassa, Kabupaten Gowa.

The first invitation was from Lazuardi Athaillah Global Islamic School Makassar that is located in Pettarani area downtown and the second invitation was from Kompasianer Makassar Communty that having the Earth Day celebration in Rumah Hijau Denassa, Gowa District.

Kedua acara tersebut memberikan kesan yang berbeda-beda, karena memang penyelenggara dan penekanannya berbeda pula, tetapi kesan yang ditimbulkan luar biasa besarnya, setidaknya dalam penilaian saya serta beberapa pendapat yang muncul. seperti saat mendongeng di Lazuardi Islamic School (dokumentasi mendongeng seperti yang terdapat dalam video youtube di atas), pendapat yang muncul adalah bahwa kegiatan peringatan earth day kali ini terkesan meriah dan ‘mewah’. Lho kok bisa?

Terkesan mewah terlihat dari ramainya peserta dan keterlibatan mereka dalam acara ini plus ada gerak dan lagu, jadi seru gitu.” Begitu seperti dikatakan salah seorang guru di sekolah tersebut.

Those two events were very impressive. They gave us different awesome impressions. As what has been shown by the celebration in Lazuardi Islamic School. The celebration was looked nice and ‘luxury’. Why was that?

it was luxury and so interesting due to the very interactive event and full with participation and songs (singing and dancing).As it was said by one of the teacher.

Sementara peringatan yang dilaksanakan di Rumah Hijau Dennasa dilaksanakan lebih variatif dan dilaksanakan secara spontan. Namun tetap meriah pula, karena seperti sebuah kejutan untuk mereka. Dan seperti yang sudah-sudah, mereka semuanya sangat terkesan akan kegiatan mendongeng ini.

While the celebration in Rumah Hijau Dennasa was more in variation, more like a little surprise for the audience. However the kids were happy and very impressed by this storytelling activity. 

Kesenangan saya sebagai seorang pencerita tentunya lebih berlipat pula karena bisa memotivasi mereka untuk lebih cinta lagi terhadap lingkungan sekitarnya, cinta tanaman dan cinta hewan dimana mereka dan kita hidup diatas satu landasan yang sama yaitu bumi kita tercinta ini.

My happiness as a storyteller was doubled due to I was still able to motivate kids audiences to have more love on their environment, love animal and plants as we live on the same path, our lovely earth.

@kangbugi

[Foto-foto dokumentasi pribadi]

Wefie bareng penulis-penulis Kompasiana
Wefie bareng penulis-penulis Kompasiana – lokasi: Rumah Hijau Denassa 
Telling story
Telling story – lokasi: Rumah Hijau Denassa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s